CERPEN Qurrota'ayun - Mutia Rahma Azzahra

 

QURROTA A’YUN

Karya : Mutia Rahma Azzahra

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اللهم صلي علي سيد نا محمد

ربنا هبلنا من ازوا جنا وذالريا تنا قرة اعيون جعلنا للمتقين ا ما ما

Memang,setiap hal istimewa yang telah mampu dilakukan oleh anak-anak,

Senantiasa menarik perhatian orang dewasa .

Si anak yang menjadi kebanggan ibunya

Si anak  yang rajin dalam beribadah terutama dalam mengerjakan sholat

Si anak yang merupakan sumber rezeki.

Sang anak yang sholeh,yang akan menjadi penolong bagi

Orang tuanya kelak.

Dan,keberhasilan sang Ibu adalah yang telah menjadikan dirinya sebagai

Madrasah pertama   dan utama bagi anak,sebagai bukti

Pencetak generasi unggul bersama suami tercinta.

Tak ada kata berhenti belajar bagi seorang Ibu dan Ayah,demi masa depan

Keluarga yang mereka bina,menjadi keluarga yang Sakinah,Mawadah,dan

Warrohmah.

Yang menanamkan benih-benih Islam pada diri si anak,dengan membangun

Fondasi Rukun Islam yang diantaranya telah terlaksana yaitu,senantiasa

Menunaikan ibadah sholat begitupun dengan berjama’ahnya.

Semoga,sepanjang hayatku ,senantiasa menjadi bagian yang tak

Terpisahkan dalam mendirikan sholat terutama berjama’ah.


Sudah sering aku bermain di halamannya dan sholat berjam’ah di Masjid yang besar nan indah  ini, masjid Jami’ AL-IKHLAS (masjid terbesar di kampungku), bahkan ini adalah masjid masa kanak-kanakku sebelum aku merantau menuntut Ilmu di Pondok Pesantren Riyadul Falah. Kini, masjid itu kembali kujejaki, mendirikan sholat berjama’ah seperti waktu aku kecil dulu sampai menempati di bangku Sekolah Dasar. Bersama para sahabat-sahabatku dan juga teman-temanku mengerjakan sholat berjama’ah, begitupun dengan bermain bersama di halaman masjid yang luas ini. Semoga sepanjang hayatku, senantiasa menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam mendirikan sholat.

Siang itu, dalam sholat Dzuhur berjama’ah kudapati seorang anak kecil yang akhir-akhir ini telah mencuri perhatianku, saat itu saya habis bermain bersama sahabatku. Karena kerapnya aktivitas sholat berjama’ah semua waktu tak terlewat olehnya, saya sering melihatnya begitu rajinnya anak itu pergi menuju masjid dan selalu membawa Al-Qur’an dan sejadah mininya di genggaman tangannya dengan berpakaian rapi berbaju koko dan memakai sarung karena masih kanak-kanak, tetapi sudah rutin mengerjakan sholat berjama’ah, itulah yang menggaet hatiku padanya. Memang, setiap hal istimewa yang telah mampu dilakukan oleh anak-anak, senantiasa menarik perhatian Anak Remaja begitupun orang Dewasa.

Anak ini punya kebiasaan, setiap selesai salam pertanda mengakhiri sholat ia akan beranjak menghampiri jama’ah dewasa dan duduk di sebelahnya. Anak itu kok supel sekali, ya? Batinku. Begitu mudahnya ia dalam menempatkan diri dengan jama’ah dewasa siapapun, baik yang sudah ia kenal maupun belum. Saya selalu memperhatikan tingkah anak kecil itu, meskipun hanya terlihat dari kejauhan karena saya berada dalam jajaran shaf perempuan di belakang.

Laiknya aku, kali itu aku melihat anak kecil itu sedang membantu kakek-kakek tua yang berjalannya bergetar yang sedang menuruni tangga dak masjid. Sudah membantu Kakek itu, anak ini spontan langsung duduk di dak masjid sambil memandangi langit yang cerah dan biru. Penasaran, akupun bertanya kepada sahabatku yang bernama Hanum.

“Hanum, anak itu dari mana sih? Kok aku baru liat ya?”. Tanyaku sambil menunjukkan jari telunjuk yang mengarah pada anak itu.

“Oh...anak itu, katanya sih anak pindahan yang tinggal di kampung tetangga”. Ucapnya dengan santai.

Karena penasaran, akupun mencoba menghampirinya dan ingin mengajaknya ngobrol. Seperti yang kubilang tadi, anak itu luwes dengan siapapun.

“Assalamu’alaikum dek...”. Saya menyapa terlebih dahulu pada anak ini.

“Wa’alaikumsalam kak...”. Anak inipun langsung menyapa balik sambil mengeluarkan senyuman yang begitu ramah.

“Adek sekolah SD ya?”. Tanyaku, karena memang tidak jauh dari masjid ini adda sekolah SD.

“Iya”. Jawabanya.

“Ayahmu yang mana?”. Lanjutku sembari mengisyaratkan padanya minta ditunjukkan keberadaan Ayahnya diantara para jama’ah yang ada. Namun, jawabannya diluar dugaanku.

“Lagi kerja”. Ucapnya.

Hah, hampir tak percaya aku mendengar jawabannya dalam benakku, biasanya anak yang rajin mendirikan sholat berjamaa’ah di masjid hampir setiap waktunya itu, karena ada yang mengajak sebagai bentuk pembiasaan. Tapi, anak ini ternyata tidak.

Pantas saja, pikirku kenapa setiap selesai salam ia beranjak menghampiri para jama’ah lelaki dewasa dan duduk manis disamping mereka. Rupanya sosok Ayah yang tidak ada di masjid bersamanya menjadikannya menghampiri dan duduk di samping jama’ah yang ada. Dengan begitu seolah tetap merasakan kehangatan sang ayah, walau itu bukan ayahnya. Ah, nelangsa aku memikirkannya.

Siapakah yang menjadikannya begitu giat sholat berjama’ah di masjid? Di saat anak-anak seusianya kebanyakan tenggelam dalam dunia main-main dan permainan, apalagi zaman sekarang yang di bantu dengan alat Digital Canggih yaitu HandPhone, tentu ada sebentuk dukungan yang setidaknya mengingatkannya ketika lalai. Ternyata itu adalah ibunya, kudapat tentang hal itu ketika ku tanya saat aku akan lari pagi alias dari subuh melihat anak itu sedang berjalan pulang seusai sholat subuh dari masjid, saya pun memanggilnya lalu mengajaknya duduk di got masjid.

Anak itu bercerita, sebelum subuh apabila ia terlupa, ibunya senantiasa membangnkan dan mengingatkan bahwa sebentar lagi waktu sholat shubuh tiba. Maka dari itulah, ia lalu sedari awal dapat bersiap-siap untuk pergi ke mmasjid menunaikan sholat shubuh berjama’ah. Disinilah peran istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak nya sangat menentukan kesholihan sebuah keluarga. Ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak, pencetak generasi unggul bersama suami tercinta. Sebab itulah, tak ada kata berhenti belajar bagi seorang ibu dan ayah, demi masa depan keluarga yang mereka bina. Menjadi keluarga sakinah, mawadah, warrohmah.

Yang lebih membuat aku salut pada anak ini. Ia harus melewati kuburan dan jajaran rumah besar yang jarang di tempati dan kosong harus berjalan sendirian yang di terangi lampu jalan remang-remang saat berjalan menuju masjid. Dan ia berani. Super sekali, batinku.

Kurasa “ketakjubanku” anak ini cukup beralasan, karena sedari kecil ia sudah rajin dalam melaksanakan sholat. Disaat anak-anak seusianya lebih asyik menikmati permainan dan belum begitu menaruh perhatian terhadap masalah ibadah, tapi anak ini berbeda. Jangan kan anak kecil, orang dewasa bahkan yang sudah tua sekalipun masih banyak yang lalai terhadap urusan sholat ini, boro-boro berjama’ah, tanpa berjama’ah pun begitu enggan melaksanakannya.

Betapa terkesimanya aku menyaksikan ada anak yang masih usia 8 Tahun, kelas 3 SD, sudah begitu terbiasa menjalankan sholat berjama’ah di masjid. Tanpa ada penuntun dari sang ayah karena sibuk bekerja. Sungguh, masalah sholat ini kelihatannya sepele, namun pada peraktiknya, tampak banyak begitu berat untuk melakukannya.

Dalam kesyahduan alam subuh itu aku mendapati lagi anak itu sholat berjama’ah, saya pun saat itu ikut menunaikan sholat subuh berjama’ah karena ada janjian dengan hanum saat itu. Setelah usainya sholat berjama’ah di lanjut dengan tadarus Al-Qur’an, anak itu pun sama terutama saya dengan sahabat saya.

Langit di luarpun mulai memancarkan aura kebiruannya sebagai dasar alas dari pancaran sinar mentari. Kami pun, menyelesaikan tadarus Al-Qur’an saat itu, terlihat anak itu menyelesaikan tadarusnya dan ia pun menghampiriku dan juga sahabatku serta duduk di depan kami terbenak, saat itu saya ingin berbagi dengannya, sebagai juga bentuk apresiasi serta harapan agar dirinya senantiasa istiqomah dalam kesholihan. Lalu.

“Dek, kamu di kasih uang jajan gak kalau ke sekolah?”.

“Dikasih”.

“Berapa?”. Tanyaku

“Kadang 3000, kadang 5000”. Jelasnya.

“Ini buat kamu”. Kucoba selipkan uang 5000 rupiah di genggaman tangan nya. Namun, setengah tak percaya dengan reaksi yang di berikannya, cepat ia menarik tangannya dan menghindar menjauh dariku. Ada apa ini? Kenapa ia tak mau? Serta merta beruntun tanya menohok benakku. Jawabnya singkat ketika ku tanya, cuma “gak apa-apa”. Ya Allah, amat beruntungnya orang tua dari anak ini. Disamping sholat berjama’ah, rupanya ia juga tidak terbiasa menerima pemberian dari orang lain, meskipun pemberian itu tanpa tendensi apa-apa, pemberian ikhlas apa adanya. Sungguh, upaya menjaga izzah/muruah (harga diri) yang amat di anjurkan dalam agama ini.

Anak itu, meski masih kanak-kanak telah mempraktikannya. Aku, serasa telah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan pujian untuknya.

Robbana hablana min azwaajina wa dzurriyatina qurrota a’yun, wa ja’alna lil muttaqiina imaama. Aamiiin

 

***

 

TENTANG PENULIS

Namaku, Mutia Rahma Azzahra, dalam panggilan bisa Mumut, Muti, Amoonth. Saya lahir di Tasikmalaya, 31 Juli 2005. Saat ini, umurku 15 tahun. Saya bersekolah di MTs Ma’rifa kelas IX. Dimana sebentar lagi saya akan lulus dari Junior High School ini dan menjadi alumni MTs Ma’rifa. Hobi saya membaca buku, juga memperhatikan ekspresi karakter orang lain. Cita – cita saya banyak tapi, diantaranya saya ingin menjadi penulis / Jurnalis. Saya begitu bahagia ketika berada dalam momentum kebersamaan dengan teman-teman seangkatan saya (Forces The Creator Changes since X ). Minuman yang paling saya sukai adalah Matcha Latte Green Tea.

                     

                      Jangan lupa follow + Add ! J


Mutia_razzah

Mutia R Azzahra

 

Komentar